Peneliti FTUI Kembangkan Propolis Indonesia sebagai Alternatif Pengobatan Virus Corona (COVID-19)

Peneliti FTUI Kembangkan Propolis Indonesia sebagai Alternatif Pengobatan Virus Corona (COVID-19)
6th March 2020 No Comments Uncategorised admin

Merebaknya virus corona atau yang di kenal dengan COVID 19 terus saja bertambah bahkan marak juga korban berjatuhan di luar negeri.

Korban tewas akibat virus Corona yang berjangkit di Italia kini telah bertambah. Dalam satu hari, Italia mengumumkan kematian baru sebanyak 41 orang. Maka, total sudah 148 orang yang menjadi korban tewas COVID-19 di Italia.

Dilansir AFP, Jumat (6/5/2020), Italia mengumumkan kabar terbaru ini.

Jumlah korban meninggal akibat terinfeksi virus corona di seluruh dunia sampai hari ini, Selasa (3/3), berjumlah 3.085 orang.

Sedangkan pasien yang dinyatakan sembuh dari virus corona tercatat sebanyak 45.581 orang.

Seperti dilansir CNN, jumlah orang yang terinfeksi virus corona masih didominasi dari China. Yakni mencapai 80.026 orang.

Dari jumlah tersebut, 2.912 penduduk China dinyatakan meninggal. Sedangkan yang sembuh mencapai 44.810 orang.

Negara dengan jumlah penduduk yang terpapar kedua terbesar setelah China adalah Korea Selatan. Tercatat ada 4.335 penduduk setempat yang dinyatakan positif virus corona.

Data data tersebut Membuat para peneliti ilmuan dari kesehatan dari banyak negara mencari pengobatan alternatif untuk membunuh virus tersebut.

nano herbal
nanotechnology nano herbal

Baca juga: mencegah lebih baik dari pada mengobati

Baru baru ini di beritakan bahwa salah seorang peneliti dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI), Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si, M. Eng., mengembangkan senyawa propolis asli Indonesia yang dihasilkan oleh lebah Tetragonula biroi aff, sebagai alternatif pengobatan dan pencegahan penyebaran Virus Corona (COVID-19).

Propolis tersebut terbukti memiliki komponen penghambat alami yang dapat digunakan untuk menghasilkan obat dengan efek negatif minimal baik terhadap tubuh manusia maupun sumber daya alam yang tersedia.

Sahlan menuturkan bahwa komposisi propolis tidak selalu sama di seluruh dunia. Pada penelitian ini, senyawa propolis berasal dari lebah Tetragonula biroi aff, perlu dipahami bahwa propolis memiliki karakteristik berbeda tergantung pada sumber tanaman dan lokasinya.

Perbedaan sumber tanaman, lokasi, serta proses penelitiannya akan membedakan pula senyawa-senyawa propolis yang dihasilkan. Saat ini beberapa negara tengah mengembangkan obat dan vaksin untuk COVID-19.

Salah satunya adalah China yang mengembangkan obat berdasarkan penelitian yang dipublikasikan oleh Prof. Yang dari Shanghai Tech University pada Januari 2020. Pada penelitiannya, Prof. Yang berhasil memetakan struktur protein virus Corona dimana ditemukan bahwa virus Corona penyebab COVID-19 harus menempel pada sel hidup (dalam hal ini paru-paru manusia) sebelum menyuntikkan struktur genetiknya pada sel hidup tersebut untuk berkembang biak.

Untuk memutus aktivitas ini, dikembangkan senyawa kimia penghambat bernama N3 sebagai alternatif obat untuk COVID-19. “Yang menarik bagi saya, propolis yang saya teliti ini memiliki sifat menghambat proses menempelnya virus terhadap sel manusia yang mirip dengan senyawa N3.

Dengan menggunakan struktur model COVID-19 yang ada, senyawa-senyawa propolis diujikan untuk melihat apakah dapat membentuk ikatan pada virus COVID-19 bila dibandingkan dengan ikatan senyawa N3,” kata Sahlan yang telah sembilan tahun meneliti tentang propolis.

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa tiga dari sembilan senyawa yang ada di propolis asli Indonesia memiliki kekuatan menempel yang cukup baik pada virus COVID-19. Bila senyawa N3 memiliki nilai -8, senyawa Sulawesins a memiliki nilai -7.9, Sulawesins b (-7.6) dan deoxypodophyllotoxin (-7.5). “Jadi, semakin negatif nilai yang dimiliki menunjukkan semakin besar kemampuan senyawa menempel pada virus COVID-19.

Hal ini membuat virus tidak dapat menempel pada sel hidup manusia untuk kemudian berkembang biak,” ujar Sahlan tentang hasil pengujiannya.

“Tentu saja penelitian ini belum masuk kedalam tahapan klinis karena Indonesia sendiri baru mengumumkan pasien positif Corona pada Senin (2/3) yang lalu. Akan tetapi hasil penelitian ini tentu sangat menjanjikan untuk dikembangkan menjadi alternatif obat dari Indonesia untuk menyembuhkan maupun mengurangi perkembangan virus Corona tidak hanya di Indonesia tetapi juga ke negara lain,” kata Dr. Ir. Hendri D.S. Budiono, M.Eng., Dekan FTUI. Saat ini penelitian yang dilakukan oleh Dr. Eng. Muhamad Sahlan, S.Si, M. Eng. dan timnya sedang pada tahap mengenali senyawa-senyawa yang potensial untuk dikembangkan sebagai obat COVID-19.

Tahapan selanjutnya adalah pengoptimasian senyawa-senyawa tersebut sebelum dilakukan uji klinis dan pengembangan obat. Dra. Amelita Lusia, M.Si.

Dra. Amelita Lusia, M.Si. CPR Kepala Humas dan KIP UI Media contact : Egia Etha Tarigan, S.Sos, MM (media relations UI, humas-ui@ui.ac.id ; 08151500-0002 | Tikka Anggraeni, M.Si. (Kepala Kantor Humas FTUI) 08161449024)

About The Author

Leave a reply

Your e-mail address will not be published. Required fields are marked *